Showing posts with label Kehamilan. Show all posts
Showing posts with label Kehamilan. Show all posts

Thursday, May 26, 2011

Amankah Memakai Sepatu Tumit Tinggi Pada Wanita Hamil


Ketika kehamilan telah menginjak trimester ketiga, amankah mengenakan sepatu berhak tinggi? Sebab kadangkala kita tidak dapat menghindar ketika harus menghadiri acara-acara resmi, sehingga mengenakan gaun dan sepatu berhak tinggi adalah pilihan yang biasa dipilih orang.

Namun, jurnal Society of Chiropodists and Podiatrists (SCP) edisi Juni 2010 mengeluarkan peringatan untuk semua ibu hamil agar menghindari pemakaian sepatu hak tinggi. Sepatu yang haknya terlalu tinggi bisa menimbulkan masalah bagi ibu dan bayinya

"Hak yang tinggi mengubah postur Anda, memendekkan otot-otot betis, dan memberikan tekanan tambahan pada punggung dan lutut Anda," ujar ahli penyakit kaki Lorraine Jones pada BBC. "Pada saat hamil, hak tinggi akan menempatkan tekanan ekstra pada sendi-sendi yang sudah tegang, yang akhirnya menyebabkan serangkaian masalah kaki, telapak, dan punggung."

Sepatu hak tinggi, bahkan yang bersol tebal, sebaiknya juga tidak digunakan, demikian menurut Jennifer Shu, dokter anak yang juga penulis bukuHeading Home With Your Newborn. Saat hamil, "Berat badan kita bertambah, lalu bentuk tubuh dan pusat gravitasi Anda akan berubah, sehingga membuat Anda berjalan dengan cara yang berbeda, dan akan sedikit goyah," katanya.

Jika dipaksakan, bukan tak mungkin ibu hamil bisa jatuh. Dan karena pusat gravitasi berubah ketika perut makin membesar, menyeimbangkan tubuh di atas hak tinggi bukan hal yang mudah dilakukan setelah usia kehamilan memasuki 25 minggu. Bahkan mereka yang sehari-hari telah terbiasa mengenakan hak tinggi pun sebaiknya meninggalkan dulu kebiasaan ini.

Meski begitu, tidak berarti ibu hamil harus langsung berganti ke sepatu datar. Hak sepatu yang disarankan oleh SCP adalah yang tingginya sekitar 3 cm. Kemiringan sepatu ini akan membagi berat badan Anda dengan cara yang nyaman, sehingga telapak kaki tidak menanggung semua beban tubuh

Tuesday, May 17, 2011

Perlunya Wanita Bekerja Selama Hamil

Hamil Sambil Kerja

Bekerja ketika hamil menjadi mudah jika ibu hamil memahami yang dibutuhkan tubuh dan merasa mampu untuk memacu diri. Kebanyakan wanita bekerja selama kehamilan, meskipun mereka mengalami pusing-pusing atau melakukan pekerjaan yang berbahaya (misalnya, bekerja dengan bahan kimia berbahaya).

Setiap wanita memiliki toleransi yanng berbeda-beda pada tahap-tahap kehamilan yang berbeda. Jika pekerjaannya penuh tuntutan, sulit bagi ibu hamil untuk menjalankan tugas seperti biasa. Hamil memang mengakibatkan perubahan. Tidak perlu merasa bahwa hamil itu adalah hal yang menyenangkan dan harus bertindak seakan-akan tidak hamil.
Anak Anda mungkin dapat menjadi salah seorang pekerja yang akan mendukung teman-teman kita ketika mereka pensiun. Jadi, jangan malu meminta bantuan teman bila perlu. Mintalah kursi untuk duduk atau air minum. Mintalah untuk dibukakan jendela.
Mintalah bos untuk memindahkan kita ke pekerjaan yang tidak terlalu berat, pekerjaan yang dapat dilakukan sambil duduk, atau yang kurang banyak jalan-jalan.
Kenali tubuh kita

Banyak wanita merasa lelah, busing, atau emosional selama tiga bulan pertama kehamilan ketika hampir semua perubahan fisik tak terlihat. Tapi, stres sering berkurang serta pekerjaan menjadi jauh lebih sederhana dan ringan bila kita menyesuaikan gaya hidup.

Makanlah secara teratur untuk menjaga kadar gula darah. Pilih makanan yang banyak karbohidrat. Makanlah sedikit tapi sering.

• Beristirahat setelah makan siang di meja, di ruang istirahat, di mobil, atau di tempat tidur.
• Mintalah bantuan. Seringkali orang akan rela melakukan pekerjaan jika kita memintanya.
• Sekali-sekali tolaklah undangan untuk ngumpul-ngumpul.
• Belilah makanan yang mudah disiapkan.
• Tidurlah lebih awal dua atau tiga kali dalam seminggu.
• Bersantailah selama sekurangnya satu setengah jam di dalam bak mandi, tambahkan minyak aromaterapi lavender ke dalam air.
• Makanlah makanan utama di saat makan slang, sehingga hanya perlu menyiapkan makanan ringan pada malam hari atau mintalah pasangan menyiapkan makanan.
• Jadwalkan makan malam sehingga dapat tidur lebih awal.


Kehamilan sehat: panduan praktis diet, olahraga, dan relaksasi bagi ibu hamil, Oleh Gill Thorn

Wednesday, May 11, 2011

Perlunya Olahraga Selama dan Setelah Kehamilan


Wanita hamil sering bertanya apakah mereka dapat melakukan olahraga dengan aman. Para ahli setuju bahwa olahraga selama kehamilan adalah aman dan bermanfaat untuk sebagian besar wanita hamil, jika olahraga ini dilakukan dengan tepat. Olahraga bahkan akan lebih bermanfaat lagi bagi wanita yang hamil pada usia 30 tahun akhir dan awal usia 40 tahun.
Olahraga akan membantu anda merasa lebih energik dan membantu anda mengatasi kebutuhan kehamilan, karier, dan keluarga lebih efektif. Bahas tentang hal ini dengan pemberi asuhan kesehatan pada kunjungan pralahir pertama anda. Jika anda memutuskan untuk memulai olahraga atau mengubah program latihan sekarang, pastikanlah untuk membahasnya dengan dokter sebelum anda memulainya.
Ada wanita yang tidak boleh melakukan olahraga selama kehamilan. Jika anda mengalami masalah-masalah berikut ini, jangan lakukan olahraga:
• riwayat inkompeten serviks, persalinan preterm atau keguguran berulang
• tekanan darah tinggi pada awal kehamilan
• Janin multipel (kembar, kembar tiga, atau lebih)
• didiagnosa berpenyakit jantung
• pre-eklampsia
• Perdarahan vagina

Pada masa lalu, olahraga untuk wanita hamil tidak selalu diperbolehkan. Dokter jaman dulu mempermasalahkan tentang pengaliran kembali darah dari otot janin ke otot ibu selama olahraga. Sekarang kami mengetahui hal ini terjadi hanya dalam tingkat yang rendah, tetapi tidak membahayakan terhadap janin.
Setiap olahraga yang melibatkan gerakan sendi mendorong air dalam jaringan untuk kembali ke darah dan membantu memompa darah kembali ke jantung. Jika anda mengalami pembengkakan normal kehamilan, seperti pembengkakan pada pergelangan kaki, olahraga dapat membantu mengatasi masalah ini. Bersepeda statis merupakan cara terbaik menghilangkan gejala-gejala ini.
Banyak wanita suka berolahraga dan berkeinginan menyusun jadwal agar sesuai dengan rutinitas sehari-hari mereka. Mereka yakin bahwa olahraga diperlukan untuk membantu mereka merasa bugar, mengontrol berat badan mereka dan berpenampilan terbaik. Mereka tidak ingin meninggalkan olahraga dan ini menguntungkan karena kehamilan.
Jika anda melakukan olahraga dengan waktu yang teratur sebelum anda hamil, anda mungkin harus memodifikasi tujuan olahraga dan melakukannya lebih santai selama kehamilan. Tujuan olahraga saat ini adalah untuk kesehatan secara menyeluruh. Olahraga membuat anda secara fisik merasa lebih segar, dan memberikan kecerahan secara emosional, tetapi jangan lakukan berlebihan.
Ada keuntungan untuk melanjutkan program latihan selama kehamilan anda. Beberapa dokter yakin bahwa wanita yang melakukan olahraga selama kehamilan menikmati masa pemulihan yang lebih singkat setelah kelahiran. Karen olahraga menjaga anda tetap bugar, anda dapat merasa segar kembali lebih cepat.
Anda mungkin harus mengubah atau memodifikasi program latihan selama kehamilan karena perubahan dalam tubuh. Pusat gravitasi anda berubah, sehingga anda harus menyesuaikan olahraga anda untuk perubahan tersebut. Dengan makin membesarnya perut, anda mungkin tidak akan mudah untuk melakukan beberapa aktivitas dengan nyaman dan anda mungkin harus menghilangkan beberapa aktivitas tersebut.
Selama kehamilan, frekuensi jantung meningkat; anda tidak perlu melakukan olahraga dengan kasar untuk mencapai target rentang frekuensi jantung. Waspadalah jangan sampai memberikan beban berlebihan terhadap sistem kardiovaskular.
Kehamilan di atas usia 30
Oleh Glade B. Curtis,Yasmin Asih

Friday, May 6, 2011

Haruskah Takut Melahirkan di Atas Usia 35?


Karena berbagai alasan, akhirnya Anda menikah di usia 35 tahun. Hal ini membuat Anda gembira, karena kini Anda bisa mulai membangun keluarga. Namun, ada kekhawatiran usia yang tak lagi muda akan memengaruhi kemungkinan hamil dan melahirkan bayi yang sehat. Wajarkah kekhawatiran seperti ini?

Hingga tahun 2000, satu dari setiap 12 bayi dilahirkan dari ibu yang berusia 35 tahun atau lebih. Hal tersebut dikatakan Glade B. Curtis, MD, anggota dewan American College of Obstetricians and Gynecologists, dalam bukunya, Kehamilan di Atas Usia 30.

Menurut dia, kelahiran pertama untuk perempuan dalam usia 30-an tahun pada 1990 berjumlah sekitar seperempat dari semua kelahiran pada perempuan golongan usia tersebut. Setiap hari di Amerika Serikat, hampir 200 perempuan berusia 35 tahun atau lebih melahirkan bayi pertama mereka. Pergeseran usia melahirkan dipengaruhi banyak hal, antara lain semakin luas peran wanita di sektor publik, majunya teknologi kedokteran, dan bergesernya usia pernikahan.
Setelah usia 30 tahun, seorang wanita dapat mengalami penurunan kesuburan akibat penurunan jumlah produksi sel telur yang sehat, penurunan produksi hormon wanita, disertai dengan penurunan jumlah sperma pasangan, penurunan frekuensi melakukan hubungan seksual, dan kondisi fisik yang tidak lagi optimal.

Namun, pengontrolan kehamilan dan pemeriksaan rutin medis dapat mengatasi kemungkinan-kemungkinan komplikasi yang timbul saat kehamilan di atas 30 tahun. Ada baiknya kita menyadari risiko yang akan dihadapi dan berusaha meminimalisasi sesuai dengan anjuran dokter.

"Sekarang ini, banyak tenaga kesehatan mengukur risiko kehamilan dengan status kesehatan wanita hamil, bukan dari usianya. Kondisi medis yang ada sebelumnya merupakan indikator kesejahteraan wanita dan kesehatan bayinya. Seorang wanita sehat usia 39 tahun sepertinya tidak akan mengalami masalah-masalah kehamilan dibandingkan misalnya wanita berusia 20 tahun yang menderita diabetes. Tingkat kebugaran seorang wanita memberikan dampak yang besar terhadap kehamilannya," kata Glade. -kompas.com

Thursday, May 5, 2011

Kate Middleton Disarankan Segera Hamil


Bukan cuma rakyat Inggris yang bergembira atas pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, tapi juga warga dunia yang mengikuti momen tersebut tersebut dari media. Semua ikut mendoakan agar pernikahan tersebut langgeng dan segera dikaruniai anak.
Selain karena William yang berada di urutan kedua ahli waris taktha, namun Kate yang berusia 29 tahun dianggap sangat ideal untuk segera memiliki momongan, apalagi jika mereka berencana memiliki lebih dari satu anak.
Dr.Manny Alvares, kepala departemen obstetri dan ginekologi dari Hackensack University Medical Center, Amerika Serikat, mengatakan usia 26-33 merupakan puncak kesuburan seorang perempuan.
"Di atas usia 35 tahun biasanya mulai ada masalah dengan hormon dan ovulasi sehingga tingkat kesuburan akan berkurang," katanya.
Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang menyebabkan tingkat kesuburan seorang perempuan berkurang, antara lain berkurangnya jumlah sel telur, penurunan kualitas sel telur, berkurangnya cairan serviks, serta munculnya masalah kesehatan secara umum akibat faktor umur, seperti hipertensi, endometriosis, atau diabetes, yang bisa mengganggu proses pembuahan.
"Ditambah lagi perempuan di usia subur juga punya risiko keguguran pada kehamilan pertamanya. Risikonya bertambah besar seiring dengan bertambahnya usia," kata dokter yang menjadi editor kesehatan dalam FoxNews ini.
Sementara itu pada pria, menurut Alvares, keberhasilan pembuahan akan berkurang hingga 50 persen saat mereka berusia di atas 35 tahun. "Secara umum di usia ini jumlah sel sperma juga mulai berkurang," katanya.
Faktor lain yang berpengaruh pada keseburan adalah stres, termasuk stres finansial, karir dan hubungan dengan pasangan. "Meski tentu saja pasangan pangeran dan putri mungkin tidak perlu mengkhawatirkan soal finansial dan karir," katanya.
Menimbang semua faktor tersebut, ditambah dengan harapan banyak orang, tekanan agar pasangan William dan Kate, menambah anggota keluarga baru mungkin cukup tinggi.
"Kedua pasangan yang sedang berbahagia ini dalam usia yang sangat ideal dan jika pembuahan lancar, bulan Mei 2012 mungkin mereka sudah akan menimang bayi," kata Alvarez.

Wednesday, May 4, 2011

Mengurangi Risiko Kaki Bengkak Saat Hamil


Salah satu keluhan yang biasa dialami oleh perempuan yang sedang hamil adalah kaki bengkak. Tapi kondisi ini bisa dicegah atau dikurangi risikonya dengan melakukan beberapa hal.

Pembengkakan yang terjadi di kaki selama hamil adalah sesuatu yang normal, tapi hal ini kadang bisa membuat ibu hamil frustasi dan mengganggu aktivitasnya sehari-hari.

Selama kehamilan, cairan berlebih di dalam tubuh dan tekanan dari rahim yang terus tumbuh bisa menyebabkan pembengkakan di kaki dan pergelangan kaki, kondisi ini dikenal dengan edema. Pembengkakanyang terjadi cenderung memburuk ketika mendekati kelahiran dan udara panas.

Biasanya pembengkakan yang ringan di kaki dan pergelangan kaki tidak perlu dikhawatirkan. Namun jika bengkak yang muncul secara tiba-tiba di wajah atau tangan bisa jadi tanda dari kondisi preeclampsia.

Meski begitu ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk membantu mengurangi atau mencegah bengkak di kaki selama hamil, seperti dikutip dari MSNHealth, Selasa (3/5/2011) yaitu:

  1. Hindari berdiri dalam jangka waktu yang lama
  2. Ketika duduk usahakan telapak kaki menyentuh lantai dan menghindari duduk sambil menyilangkan kaki
  3. Melakukan streching atau peregangan sesering mungkin ketika duduk dalam jangka waktu yang lama
  4. Ketika tidur usahakan untuk berbaring ke sisi kiri, hal ini karena pembuluh darah vena ada di sebelah kanan sehingga bisa mengurangi tekanan
  5. Menggunakan alas kaki, kaus kaki atau stocking yang nyaman dan bisa mendukung kondisi tubuh
  6. Mengonsumsi air putih yang cukup
  7. Cobalah untuk berenang atau berdiri di kolam renang sampai mencapai leher
  8. Berolahraga secara teratur
  9. Usahakan untuk tetap tenang dalam cuaca yang lembab atau panas
  10. Menerapkan pola makan yang baik dengan perbanyak buah dan sayur serta menghindari minuman berkafein dan makanan yang asin.
Tapi jika bengkak yang muncul terjadi di wajah, di sekitar mata, tangan atau kaki yang satu lebih bengkak dari lainnya, maka segera konsultasikan ke dokter untuk mengetahui pasti kondisinya.
Oleh : Vera Farah Bararah - detikHealth

Tuesday, April 5, 2011

Periksa Hal Ini Jika Ingin Hamil


Apakah memiliki mulut rahim dan cairan mulut rahim yang baik ?
Ini juga sangat berpengaruh pada proses pergerakan sperma menuju rongga rahim untuk “menemui” sel telur. Jika mulut rahim terlalu sempit atau terlalu menguncup ke atas, dan tidak memiliki cairan yang cukup, tentu akan sulit bagi sperma untuk mencapai rongga rahim.
Apakah memiliki saluran telur yang prima dan berfungsi secara normal ?
Seperti halnya sperma, untuk mendapatkan kehamilan yang prima, tentu bibitnya juga perlu prima. Untuk mengetahui sel telur tersebut baik dan berfungsi secara normal perlu dilakukan pemeriksaan secara kimiawi dan mikroskopis, sehingga bisa diketahui baik dari strukturnya maupun kandungannya. Peningkatan asupan nutrisi bisa memperbaiki kandungan sel telur.
Apakah memiliki rahim dan dinding rahim yang normal ?
Struktur rahim yang kokoh bisa menjadi tempat tinggal janin yang nyaman. Namun jika rapuh, mudah ruptur ataupun goyah, tentu akan mudah mengalami keguguran. Hal ini biasanya lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas fisik, penyakit atau infeksi, dan psikologis.
Apakah memiliki sel telur yang dapat berkembang dan berovulasi ?
Ini tentu penting, untuk apa sel sperma bertemu dengan sel telur jika sel telurnya tidak mampu berkembang dan berubah bentuknya hingga menjadi embrio. Kemampuan sel telur untuk berovulasi dengan baik bisa tampak pada siklus menstruasi yang normal. Kegagalan berkembang itu bisa juga disebabkan adanya gangguan pada indung telur seperti kista, kelainan genetik ataupun penyakit lain.
Apakah memiliki sperma dalam jumlah dan kualitas yang baik ?
sperm egg 4is Periksa Hal Ini Jika Ingin Hamil
Ini juga wajib diperhatikan untuk kamu laki-laki atau para suami. Selama ini seringkali infertilitas selalu ditimpakan kesalahannya pada wanita, memang sih pertanyaan untuk wanita lebih banyak karena memang organnya yang lebih kompleks. Namun jangan dikira laki-laki bisa luput, karena satu hal saja karena permasalahan sperma, pasangan suami istri bisa kesulitan memperoleh keturunan. Jumlah sperma yang kurang ditambah kualitasnya yang kurang baik, bisa mempersulit “pertemuan” dengan sel telur. Kemungkinan penyebabnya adalah stres psikis, gangguan hormon di otak, kelainan genetik, trauma alat kelamin, infeksi kelenjar parotis (gondongan), infeksi di organ kelamin, dan kelainan bentuk organ genital (walaupun kelainan fisik genital tidak terlalu berpengaruh besar pada jumlah dan kualitas, tetapi cukup berperan dalam “menyampaikan” sperma ke dalam rahim.

Tambahan lainnya adalah, adanya paparan radioaktif, polusi kendaraan atau pabrik, serta gaya hidup yang tidak baik, mempunyai peranan yang cukup besar terhadap sulitnya pasangan suami istri memperoleh keturunan (sekitar 15-20%).
Nah, jika semuanya sudah diperiksa dan diteliti secara seksama baik dengan konsultasi ke dokter maupun mempelajari kebiasaan hidup masing-masing, tentu sudah bisa diprediksikan apakah Anda dapat memperoleh keturunan ataukah perlu mengambil cara lain untuk mempunyai momongan.
Semoga informasi ini bisa bermanfaat dan menambah wawasan Anda yang ingin memiliki momongan.